Fokus Kajian

Berita



FGD (Focus Group Discussion) Online Ke – 2 Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Tata Cara Pembangunan Dan Pengoperasian Bandar Antariksa
Penulis Berita : Cholifah Damayanti • Fotografer : Pusat KKPA • 24 Jul 2020 • Dibaca : 619 x ,

Kegiatan FGD Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Tata Cara Pembangunan dan Pengoperasian Bandar Antariksa kembali dilaksanakan untuk kedua kalinya pada tanggal 20 Juli 2020. Pertemuan yang dilakukan secara online melalui aplikasi zoom meeting ini, secara resmi dibuka oleh Deputi Teknologi Penerbangan dan Antariksa, Dr. Rika Andiarti dan sebagai moderator adalah Kepala Pusat KKPA, Dr. Robertus Heru Triharjanto, M. Sc. Pada sesi pembukaan, Deputi menyampaikan beberapa hal, antara lain tiap-tiap negara memiliki peraturan yang berbeda-beda dalam pembangunan dan pengoperasian, dan ada juga yang diatur dalam kerjasama. Pada FGD pertama, pembahasan telah dilakukan mengenai regulasi yang wajib diperhatikan dan asuransi. Untuk FGD ke – 2 ini, seperti pertemuan sebelumnya, akan menggali informasi dari para stakeholders terkait. Termasuk apa saja kendala dan peluang dalam praktiknya, serta bagaimana keterlibatan stakeholders.

Pemaparan Narasumber Pertama oleh Bapak Asri Santosa, S.T., S.Si.T., M.T. Direktur Navigasi Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Beliau menyampaikan mengenai ketentuan penerbitan NOTAM dalam penerbangan sipil. Sebelumnya beliau menyampaikan bahwa Indonesia memang memerlukan lompatan teknologi, DNP Kementerian Perhubungan sangat mendukung dalam mewujudkan pembangunan bandar antariksa tersebut dan nantinya sebagai suatu kewajiban akan menerbitkan NOTAM (Notice to Airmen). Pertama data yang dibutuhkan adalah kemampuan roket, rencana terbang, dan lokasi bandar antariksa tersebut, sehingga diketahui daerah yang akan diamankan, jadi tidak akan ada penerbangkan sipil dan militer di daerah tersebut. Kedua, dari rencana operasi DNP bisa alokasi waktu yang dibutuhkan dari landas terbang sampai di orbit. Kemudian, membuat rencana altternatif dan pertolongan apabila terjadi kegagalan peluncuran atau kondisi darurat lainnya (misalnya peluncuran astronot). Ybs mengingatkan bahwa semua proses tersebut High Risk sehingga harus menggunakan asuransi. Keempat mengenai jadwal untuk pengujian komponen : kapan dan berapa lama serta di daerah mana. Radius bahaya, waktu, jalur apa yang terpakai, semua akan dimasukkan ke dalam NOTAM. Jika bandar antariksa itu permanen, maka NOTAM akan dua kali tempo atau AIRAC cycle (per cycle 28 hari, sehingga total 56 hari baru permanen).

Jenis-jenis NOTAM terdapat NOTAMR (NOTAM Replace) untuk menggantikan NOTAM sebelumnya dan NOTAMC (NOTAM Canceled) untuk membatalkan (cancel) NOTAM sebelumnya yang berstatus masih aktif. Bahasa NOTAM harus baku, simple, dan harus dapat dicerna dalam dunia penerbangan. Intinya pelayanan penerbangan termasuk bandara, pesawat, cuaca, traffic special (termasuk bandar antariksa). LAPAN memberikan justifikasi, sebagai peminta NOTAM, karena biasannya bandara yang meminta NOTAM. DNP hanya membebaskan rutenya, mengenai kelaikan wahana otoritasnya adalah DKUPPU. Untuk kembali (re-entry dalam konteks roket) flight plan wahana tersebut juga harus diberitahukan kepada DNP. Fasilitas bandar antariksa juga harus diberitahukan (pemenuhan KKOP). Mengenai masalah-masalah teknis seperti fire-fighting atau pertolongan kecelakaan pesawat dan pemadam kebakaran (PKPPK), terdapat kelas-kelasnya (semakin besar pesawatnya, semakin tinggi kelasnya).

Selanjutnya, beliau juga menjelaskan mengenai spesifikasi umum NOTAM, input NOTAM terhadap suatu kegiatan (harus dilakukan sebelum 7 hari, kecuali jika terjadi bencana, jika ada pembatalan dapat dilakukan sebelum 24 jam. Jika cancel apabila ada engine yang rusak dapat juga dilakukan), dan prosedur penerbitan. Intinya harus membuat prosedur altenatif bagi masyarakat penerbangan jika bersinggungan dengan rencana LAPAN.

Harapan dari DNP adalah memiliki sistem backbone berbasis teknologgi antariksa sendiri untuk penerbangan Indonesia (telekomunikasi, navigasi, surveillance penerbangan), sehingga dapat melihat wilayah Indonesia secara menyeluruh.

Pemaparan Narasumber kedua selanjutnya oleh Bapak Anggoro Kurnianto Widiawan, Ph.D., Direktur Operasi PT. Telkom Satelit Indonesia. Beliau terlibat dalam peluncuran 5 satelit, dimana empat satelit dilakukan di French Guyana. Telkom-3 yang tidak berhasil mencapai orbit diluncurkan dari Baikonur Kazakhstan dengan menggunakan wahana peluncur Rusia. Masing-masing peluncuran memiliki karakteristik berbeda-beda. Secara garis besar terdapat 3 main activities: pre-launch campaign (persiapan apa saja yang dilakukan termasuk dari manufacturing roket dan payload/satelit); launch campaign (payload/satelit dan roket); dan post launch.

Pada Pre-launch campaign, ditujukan untuk verifikasi quality dan performance dari wahana peluncur dan payload-nya, termasuk di dalamnya dari shipment ke launch site. Operator satelit hanya fokus pada muatan yang akan mereka luncuran. Saat fase peluncuran (launch campaign), durasinya dikonsepkan sampai 45-50 hari, dimana kondisi di Baikonur dan di Kourou berbeda. Hospitality facilities di tempat peluncuran penting, karena durasi launch campaign itu tidak sebentar. Pre-launch juga termasuk verifikasi kesehatan operator dan kru yang bekerja di sana. Pada Lauch champaign, adalah final check satelit setelah shipment. Kemudian fueling, lalu combine operation (dengan pemilik roket), dan final countdown. Di Rusia tidak ada electrical test, sementara di bandar antariksa eropa ada electrical test (instrument disediakan di bandar antariksa). Pada Post-launch dilakukan oleh payload owner/satelit operator untuk review dan evaluasi. Untuk trajektori masing masing misi berbeda. Korou menghasilkan orbit dengan inklinasi 6o, sehingga harus melakukan penyesuaian untuk sampai orbit akhir. Biak mendekati ekuator, sehingga sangat ideal untuk peluncuran ekuator. Untuk memonitor peluncuran, tidak bisa hanya mengandalkan stasiun telemetri Biak, perlu tambahan stasiun/sistem lain. Untuk dokumen yang dibutuhkan untuk joint operation selama launch campaign adalah ICD (interface control documents), yang harus di cek bersama antara pemilik wahana peluncur dengan pemilik satelit. Dokumen tersebut diantaranya berisi spaceport safety regulation; spacecraft safety sheets; general specification for payload dynamic models; technical specification for the payload thermal model; general specification.

Pada sesi diskusi dan tanya jawab, terdapat pertanyaan mengenai penerbitan NOTAM, yaitu (1) apakah memungkinkan untuk pengajuan NOTAM kembali karena untuk peluncuran roket sangat dinamis; (2) apakah Indonesia memiliki 3 tipe NOTAM seperti FAA (Federal Aviation Administration) Amerika Serikat; (3) penerbitan NOTAM yang dapat dipublikasi lokal dan internasional, bagaimana jika hanya uji coba peluncuran. Kemudian Bapak Asri Santosa memberikan tanggapan atas pertanyaan tersebut. mengenai reschedule, menggunakan NOTAMR asalkan tidak lebih dari 20 hari. Bapak Indra Kasubdit Navigasi Penerbangan menambahkan bahwa apabila ada NOTAM yang sudah dipublikasi akan diubah, dapat dilakukan. Akan dievaluasi jika memiliki dampak yang panjang karena perlu memanggil semua operator penerbangan untuk cek apakah rute sudah pas. Mengenai 3 tipe NOTAM, Bapak Indra menjawab bahwa di Indonesia hanya ada ASHTAM sementara di Amerika ada 7 macam. Akan melihat best practice bagi negara-negara yang sudah melakukan praktek dengan baik. Hal ini juga bergantung pada pelaksanaan kegiatan peluncuran dan lain-lainnya seberapa besar dampaknya. Mengenai NOTAM untuk uji peluncuran, bahwa inti dari penerbitan NOTAM adalah memberikan informasi untuk safety penerbangan walaupun hanya roket uji coba. Untuk pertanyaan mengenai tugas kebandarudaraan ATC, apakah nanti LAPAN tidak diberikan izin mandiri, dijawab bahwa ATC sebaiknya dari Kemhub, daripada menyekolahkan ATC yang membutuhkan waktu 3 tahun. Hanya upgrade SDMnya dengan memberikan training singkat mengenai roket.

Diskusi dilanjutkan mengenai pertanyaan tentang asuransi, di UU Keantariksan hanya diwajibkan terhadap pihak ketiga, bagaimanakah di penerbangan. Untuk posisi sekarang, kembali nya tempat penerbangan jarak jauh (return to atmosphere), jika di Biak apakah mungkin koordinasi dengan ATC dengan TT&C, apa yang harus dipenuhi. Pertanyaan untuk Telkomsat, bagaimanakah penanganan dan tindak lanjut Telkom 3 yang gagal. Pertanyaan mengenai asuransi di jawab oleh Bapak Asri bahwa asuransi penerbangan mengcakup semua, yang menerbangkan, yang diterbangkan, dan pihak ketiga. Ketika melintas wilayah Indonesia, harus melekat pada proses penerbangan, termasuk cargo. Mengenai return to atmosphere, harus didaftarkan lokasi pendaratan, kapan roket masuk ke atmosfir, dan akan diatur oleh ATC setelah dibawah 50 ribu feet. Perwakilan dari Telkomsat menanggapi pertanyaan yakni berdasarkan pengalaman peluncuran, TTC sesuai trajectory, handling koordinasi sebelum separasi akan dilaksanakan oleh spaceport operator, setelah sereparasi akan di hand over ke satelit operator. Kegagalan Telkom-3 bterjadi selum separasi jadi masih tanggung jawab operator bandar antariksa dalam hal ini Rusia. Ketika menerima notifikasi, langsung kontak ke insurance provider, lalu pelaporan di ITU mengenai penempatan satelit yang tidak jadi.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa - Lapan
Jl. Cisadane No. 25 Cikini, Jakarta 10330 Telp. (021) 31927982 Fax. (021) 31922633



© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL