Fokus Kajian

Berita



SINERGI NASIONAL DALAM DIPLOMASI ANTARIKSA INDONESIA
Penulis Berita : Yunita Permatasari • Fotografer : Pusat KKPA • 08 Feb 2021 • Dibaca : 1076 x ,

Upaya kemandirian dan penjalaran teknologi dan aplikasi antariksa yang diupayakan oleh LAPAN perlu disokong dengan tata peraturan nasional dan kebijakan yang mendukung. Kebijakan ini yang mensinergikan kekuatan nasional sehingga dapat bergema dalam kancah internasional. Salah satu upaya menuju sinergi nasional tersebut diantaranya melalui focus group discussion (FGD) yang telah diadakan pada 26-27 Januari 2021 melalui aplikasi zoom meeting sebagai upaya mendukung program pemerintah menekan penyebaran covid-19. FGD yang mengangkat tema “Strategi Peningkatan Peran Indonesia di Indo-Pasifik: Implementasi Diplomasi Antariksa”, diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan riset pro mandatori prioritas riset nasional (PRN) KEMENRISTEK/BRIN pada tahun pertama yang dimandatkan pada Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN periode 2020-2024. Riset Diplomasi Antariksa menjadi suatu hal yang urgent untuk mendapatkan perhatian dan sinergi nasional ini berada dibawah payung manajerial LIPI sebagai manajer riset PRN KEMENRISTEK/BRIN khususnya Pusat Penelitian Kewilayahan. Riset ini merupakan kolaborasi antara para peneliti pusat kajian kebijakan penerbangan dan antariksa LAPAN dengan peneliti Universitas Airlangga serta Universitas Indonesia.

FGD yang berlangsung dua hari telah menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidangnya. Dalam pengantar yang disampaikan Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin pada hari pertama FGD tanggal 26 Januari, mengingatkan pernyataan Presiden Soekarno yaitu Indonesia harus menguasai Nuklir dan Antariksa untuk menjadi Bangsa Besar. Selain itu, Prof. Djamaluddin menyatakan bahwa teknologi antariksa merupakan teknologi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Namun, kapabilitas keantariksaan Indonesia masih banyak bercelah. Celah yang pasti dialami oleh setiap negara dalam pengembangan keantariksaan karena sejatinya kegiatan ini memerlukan kunci kolaborasi internasional. Apalagi dimensi diplomasi antariksa pun termasuk dalam pilar keantariksaan global khususnya Space2030 Agenda dengan prinsip no one left behind. Dengan demikian, Indonesia perlu menentukan strategi diplomasi antariksa-nya yang komprehensif. Hal tersebut tentunya memerlukan proses politik yang cukup panjang baik secara nasional maupun internasional. Namun, sangat layak dicoba untuk membangun Indonesia Maju.

Pada hari pertama FGD, Dr.Eng. Hotmatua Daulay, B.Eng., M.Eng., Direktur Pengembangan Teknologi Industri, Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan, KEMENRISTEK/BRIN, dan Dr. Ganewati Wuryandari, M.A., Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, selaku Manager Program PRN IV juga menyampaikan paparannya. Dalam paparannya Dr.Eng. Hotmatua Daulay, B.Eng., M.Eng menyampaikan Arah Kebijakan Penguatan Riset dan Pengembangan Prioritas Riset Nasional dengan penekanan pada PRN sebagai kegiatan dengan posisi yang sangat penting dan merupakan fokus kegiatan KEMENRISTEK/BRIN sehingga output-nya sangat dinantikan dalam bentuk model/peraturan/kebijakan. Sedangkan Dr. Ganewati Wuryandari, M.A menyampaikan Penguatan Peran Indonesia di Tingkat Regional dan Global. Ibu Ganewati memberikan penjelasan mengenai urgensi WBS IV dan peranan dimensi antariksa di Indo-Pasifik, serta secara khusus menekankan perlunya penguatan peran Indonesia dalam diplomasi antariksa dalam 4 bidang yaitu space governance, space diplomacy, space economy, dan space debris. Sebelum paparan dari para nara sumber PIC riset Yunita Permatasari, M.Si menyampaikan paparannya terkait status riset kajian khususnya urgensi diplomasi antariksa, yang menjelaskan definisi antariksa, cakupan domain antariksa, cakupan kawasan keantariksaan Indo-Pasifik, pemetaan awal kapabilitas keantariksaan negara-negara Indo-Pasifik, dan bentuk-bentuk peran diplomasi antariksa. Sebagai nara sumber pada hari pertama hadir Dr. Robertus Heru Triharjanto, M.Sc., Kepala Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa dan Ir. Christianto R. Dewanto, M.Eng, Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masarakat, dan Umum yang memberikan pemaparannya terkait Isu Strategis Keantariksaan di Indo-Pasifik, dan Kegiatan Kerja Sama Keantariksaan di Kawasan Indo-Pasifik.

Pada hari kedua, Sekretaris Utama LAPAN turut hadir dan juga memberikan sambutannya. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indo-Pasifik merupakan kawasan dinamis sehingga Indonesia butuh meningkatkan space diplomacy-nya di kawasan ini. Hari kedua FGD telah menghadirkan nara sumber Dr. Siswo Pramono, Kepala BPPK KEMLU, Makmur Keliat, Ph.D, Dosen Senior HI FISIP UI, Evan Laksmana, Ph.D, Peneliti Senior Politik CSIS, Berlian Helmy, Direktur Ideologi dan Politik LEMHANAS, dan Sigit Jatiputro, Sekjen ASSI. Dr. Siswo Pramono, LL.M selaku Kepala BPPK KEMLU menyampaikan Indo-Pacific and The Rise of Asia, yang menekankan bahwa Asia menjadi semakin penting dalam kontestasi geopolitik dunia dengan menjadi pilar utama perekonomian dunia. Negara fast grower di G20 pertama India, kedua Indonesia, bahkan Indonesia tercatat sebagai negara fast climber bersama dengan Turki. Kemudian Indo-Pasifik berkembang dengan di-drive oleh kebangkitan Asia yang di-design untuk merangkul semuanya dalam ASEAN Outlook on Indo-Pacific dengan mensinergikan konsep Indo-Pasifik AS, India, Jepang. Makmur Keliat, Ph.D., selaku dosen senior Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia dalam presentasinya yang berjudul Geopolitics and Geoeconomics in Indo-Pacific secara khusus menekankan bahwa telah terjadi pergeseran konstruksi dari geopolitik menjadi geoekonomi di mana antariksa merupakan arena kompetisi baru. Terkait space diplomacy Indonesia bukan merupakan pemain utama. Untuk itu perlu melakukan kerja sama internasional misalnya dalam diplomasi satelit. Namun dalam kerja sama tersebut perlu melibatkan swasta mengingat teknologi keantariksaan bersifat high cost, sehingga APBN tidak mengalokasikannya. Dalam konteks pengembangan space diplomacy juga perlu memperhatikan soft skill terkait keantariksaan yang ditujukan untuk kepentingan di masa datang.

Evan A. Laksmana, Ph.D, selaku Peneliti Senior Politik Centre for Strategic and International Studies memaparkan presentasinya Pertarungan AS-China dan Pusaran Strategis Indo-Pasifik yang menggambarkan tiga teater Indo-Pasifik antara lain: isu geografis, strategis, dan kebijakan. Di dalam kawasan ini pun terdapat persoalan titik konflik, stabilitas domestik, siklus krisis strategis. Pusaran strategis di kawasan menuju tahap awal bipolaritas AS-China dengan pattern Australia, India, Jepang yang semakin menjauhi China. Berlian Helmy, M.Ec., selaku Direktur Ideologi dan Politik, Lemhanas RI menjelaskan Ancaman Keamanan Indonesia di Indo Pasifik. Indo-Pasifik hendaknya dipandang sebagai global geopolitical spectrum and beyond yang artinya memasukan dimensi antariksa. Satu hal yang harus diperhitungkan space diplomacy adalah perhitungan risiko yang terkait dengan values and norms. Ancaman dalam konteks Indo-Pasifik yaitu kerentanan yang cukup tinggi disertai gejolak politik kawasan sehingga perlu mendorong ketahanan regional (regional resilience). Bapak Sigit Jatiputro dan Bapak Ibnu Rusydi, selaku Sekjen ASSI dan Kabid Inovasi ASSI mempresentasikan Potensi Industri Satelit di Indo Pasifik. Beliau menyampaikan US-China rivalry digital economy dengan faktor pendorong satellite communications. Dengan menggarisbawahi potensi Indonesia di digital economy yang belum dikembangkan optimal (almost exclusively mobile digital economy). Padahal telah terwujud realitas internasional yang dapat mendukung hal tersebut misalnya G20 Digital Economy Task Force. Ditambah evolusi network 5G maka pertumbuhan kapasitas satelit semakin signifikan dengan hampir semua negara memiliki satelit. Maka, potensi global space economy meningkat ataupun the satellite race is coming very fast.

FGD ini juga dihadiri oleh sejumlah undangan dari Kementerian Luar Negeri; Kementerian Pertahanan; Kementerian Koordinator Politik, Hukum, Dan Keamanan; Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN; TNI AU; LIPI; LEMHANAS; Universitas Indonesia; Universitas Airlangga, Universitas Pertahanan; CSIS; ASSI; MAPIN; dan peneliti serta analis kebijakan utama dari LAPAN. Dari diskusi hari pertama yang dipandu Aristyo R. Darmawan, S.H., LL.M dari UI selaku anggota Tim Riset, dan hari kedua yang dipandu Joko Susanto S.IP, M.Sc dari UNAIR juga selaku anggota Tim Riset, menyimpulkan pandangan kritis lebih dari kerangka berburu akses, selain rivalitas wilayah, termasuk juga anti akses semakin penting dimana teknologi dan aplikasi keantariksaan menjadi penting. Rivalitas ini juga bukan merupakan hal baru, namun akan terus hadir apabila masih diselesaikan secara sektoral dan kurangnya leadership tingkat tinggi. Indonesia dalam peranan di keantariksaan dapat memperhatikan tidak hanya “satelit besar” tetapi juga “satelit kecil-kecil yang dapat meningkatkan peranan Indonesia”.

“LAPAN Unggul Indonesia Maju, LAPAN Melayani Indonesia Mandiri, Berinovasi, Berkolaborasi”


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa - Lapan
Jl. Cisadane No. 25 Cikini, Jakarta 10330 Telp. (021) 31927982 Fax. (021) 31922633



© 2021 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL